0 items in your shopping cart

No products in the cart.

‘UNLEARN’; PERLUKAH KITA MENUMPUK PENGETAHUAN?

Pengetahuan berasal dari akar kata; ‘belajar’ dan ‘berpikir’. Pemahaman berasal dari akar kata; ‘kesadaran’. Saya menyebut istilahnya sebagai KNOWING (pemahaman) dan KNOWLEDGE (pengetahuan). Untuk itu maka pengetahuan tidak berhubungan dengan pemahaman.

Pengetahuan dan Pemahaman merupakan dua hal yang bertolak belakang. Semakin banyak pengetahuan maka akan semakin jauh dari memahami. Banyak pengetahuan akan menjadikan sebatas tahu.

Knowing (memahami) adalah sebuah proses ‘unlearn all that you have learned’. Semakin kuat pengetahuan, semakin banyak pengetahuan yang ditumpuk, hanya akan jadi Knowledge, bukan Knowing.

Pengetahuan berkaitan dengan waktu. Jadi semakin lama seorang belajar, makin banyak belajar, maka makin tahu, makin pintar dan makin cerdas. Namun selama dia tidak melakukan “unlearn all that you have learned” maka kesadaran tidak akan melahirkan knowing.

Semakin tua, makin banyak umur, banyak belajar, akan makin berpengetahuan.
Ketika seorang Yesus yang berumur 30 tahun dan mengalami KNOWING, maka para pendeta yang lebih tua tidak percaya.

“Bagaimana bisa anak kecil yang belum belajar banyak memahami seluruh kehidupan?” Mereka tidak tahu bahwa Pengetahuan bertolak belakang dengan memahami.

Ada orang yang sudah “unlearn all that you have learned” dan kemudian dapat menjabarkan ayat dalam Quran, maka mereka yang berpengetahuan akan menolak: “mana mungkin? Belajar ilmu Quran saja tidak pernah, darimana ia memahami ayat di dalamnya?”

Nabi Muhammad pada umur 40 tahun juga mengalami “unlearn all that you have learned” – dan kondisi unlearned inilah yang di metaforakan sebagai ‘orang yang buta huruf’

KNOWING – memahami semua isi semesta, bukan dilakukan dengan cara belajar ilmu pengetahuan dan banyak pengetahuan. Jadilah ‘buta huruf’ yaitu proses “unlearn all that you have learned”

Love & Blessing

Leave a response