0 items in your shopping cart

No products in the cart.

TUHAN CAUSA PRIMA

Tuhan sebagai Causa Prima adalah penyebab segala kejadian. Untuk itulah Osho bilang bahwa God is a Problem, not solution. Tuhan sebagai tempat meminta akhirnya juga menimbulkan masalah. Masalah yg terjadi adalah tidak dipahaminya oleh manusia mengapa permintaannya tidak dipenuhi, dan juga masalah selanjutnya adalah apabila permintaan dipenuhi maka manusia akan meminta hal-hal lain lagi.

Bagaimana kalau Tuhan dulunya tidak dikenalkan oleh para master? Dan para master tetap hanya mengajak untuk mengalami Sang Sumber? Titik sulit para master adalah (sekali lagi) menghadapi ancaman untuk membuktikan dan menjelaskan Sang Sumber. Seperti saat ini dimana saya selalu ditantang untuk membuktikan darimana dan apa referensi yang dipakai dalam menuliskan Soul Journey.

Namun jika Tuhan tidak dikenalkan sebagai ‘pengganti’ Sang Sumber, maka bisa jadi sampai saat ini manusia hanya mengenal bersyukur dan hidup dalam koridor tidak keluar dari laws of universe walaupun tanpa agama!

Munculnya Tuhan sebagai konsep menimbulkan masalah besar, karena memahami hanya ada satu Tuhan dan yang lain dikatakan tidak memahami Tuhan yang diyakininya sudah merupakan masalah dalam berinteraksi dg manusia lainnya.

Pernahkah anda membayangkan hidup pada jaman sang master dan bertanya padanya, “darimana referensimu tentang ini semua?”

Atau apakah anda bisa menjawab pertanyaan: Sebagai sebuah ilmu pengetahuan, Quran itu mengambil referensi darimana?

Sayangnya mereka belum memahami bahasa vibrasi. Pada saat saya menuliskan naskah Soul Journey inipun, vibrasi yang ada telah menyentuh relung intelligentsia dan mengabarkan sebuah rasa yang pernah hilang. ‘ah ini dia!’, namun karena penolakan yang disebabkan argumentasi pikiran yang bersifat membantah sesuatu yang mengusik kenyamanannya, maka pikiran dengan lantang bilang, ‘ini nggak sesuai dengan ajaran agamaku!’

Saya tidak pernah membahas Sang Sumber, karena memang tidak bisa dibahas. Kita masih bisa membahas Tuhan karena memang dia masih berada dalam layer pikiran.

Ada analogi yang menarik:

Seseorang sedang berada dalam rumah yang kebakaran. Apabila saat itu yang dilakukannya adalah berpikir apa penyebab kebakaran, darimana asal kebakaran, maka ia akan mati terbakar didalam rumah.

Apa yang harus dilakukannya? Sesegera mungkin keluar rumah untuk menyelamatkan dirinya! Setelah dia keluar dan selamat, barulah ia dapat menemukan sebab-sebab kebakaran di dalam rumahnya.

Kita sedang terpenjara dalam permainan mind para Tuhan. Usaha untuk lepas dari penjara akan mengusik kenyamanan pikiran itu sendiri. Banyak manusia yang ingin nyaman dan ingin menikmati dipenjara lebih lama. Untuk itu mereka akan menolak setiap usaha yang menyebabkan manusia sadar sedang terpenjara, apalagi usaha ingin melepaskan dari penjara.

Dalam Soul Journey juga tidak membahas energi atau menarik keberlimpahan atau hal-hal materi lainnya. Mengapa? Hal tersebut semata untuk mengguyur kita air bahwa ‘this is just a game!’

Namun untuk mendapatkan itu semua, kita sudah mendapatkan kailnya, yaitu Grand Plan! Menyadari adanya sebuah hukum atau aturan main, maka kita akan dapat memenangkan permainan tersebut.

Soul Journey juga tidak membicarakan ‘healing’ atau metode-metode penyembuhan. Kesemua hal yang tidak kita bicarakan itu adalah tindakan kita keluar dari rumah yang sedang terbakar!

Bagi saya, membicarakan energy, membicarakan menarik materi, keberlimpahan, healing, dan hal-hal metafisik lainnya adalah tindakan memikirkan penyebab rumah terbakar saat rumah sedang terbakar di dalam rumah terbakar!

Mengalami Sang Sumber, masuk ke The Infinite Intelligence, adalah tindakan keluar secepatnya dari rumah yang terbakar. Setelah di luar rumah, maka hal-hal lainnya akan gampang dipahami dan bahkan gampang dilakukannya.

Kembali kepada Tuhan sebagai Causa Prima.

Adanya Tuhan, kemudian diciptakan juga (oleh mind) sebuah kekuatan yang diberi nama Setan. Apabila Setan lebih rendah kekuatannya daripada Tuhan maka seharusnya Setan tidak dapat menggoda manusia karena Setan tentu saja takut kepada Tuhan. Namun secara tidak sadar manusia memahami bahwa kekuatan Tuhan dan kekuatan setan sama besarnya sehingga dapat saling mempengaruhi. Apa yang dikatakan menyembah Tuhan sama saja ketika dikatakan menyembah Setan. Saat ada sebuah penilaian bahwa Tuhan itu baik dan Setan itu jahat, maka kita semua mengetahui bahwa penilaian ada di layer pikiran.

Jadi apabila Tuhan tetap didudukkan dalam layer entitas Tuhan yang berada pada Dimensi Spiritual (skema pelepasan) maka mau tak mau Tuhan bukanlah solusi, namun masalah itu sendiri. Sifat-sifat dan tindakan Tuhan sudah menjadi automatic guidance system yang dijalankan oleh seluruh sel tubuh manusia.

Menyadari Sang Sumber, melampaui entitas Tuhan adalah menjadi pengamat atas semua hal yang terjadi tanpa penilaian. Entah baik atau buruk, entah bahagia atau duka, entah kebaikan atau kejahatan bukanlah hal yang dicari atau dihindari oleh pengamat.

Namun demikian, karena kita menghuni bumi dan tindakan di bumi terpengaruh oleh laws of universe, maka jalan satu-satunya bermain dengan bagus adalah selaras dengan hukum-hukum tersebut. Disini terus terang, tidak ada yang perlu kita pinta dari Tuhan, tidak ada yang perlu di mohon dari Tuhan, kita cukup menyadari Grand Plan yang ada dan selaras dengan laws yang digelar. Meminta dan memohon kepada Tuhan benar-benar sebuah masalah, dan bukannya sebuah solusi!

 

Love & Blessing

Leave a response