0 items in your shopping cart

No products in the cart.

TUHAN ADALAH KATA YANG TERPAKSA HARUS DISANDANGKAN

Ketika kita merekonstruksi kata Tuhan dan kita bongkar dari mind kita, maka Tuhan akan tetap ada. Saya tidak sedang membicarakan ‘Tuhan’ yang saya beri tanda petik. Untuk itu, agar membedakan ‘Tuhan’ dan Tuhan, maka ‘Tuhan’ yang saya beri tanda petik akan saya ganti istilahnya menjadi Sang Sumber.

Tuhan bukanlah Sang Sumber. Dan sangat  mungkin sekali bahwa Tuhan yang dikenal saat ini adalah Tuhan yang mengawasi, Tuhan yang memberi, Tuhan yang menolong, dan itu bukanlah Sang Sumber.

Sang Sumber yang merupakan kekuatan diatas segala-galanya dan Maha Besar adalah emptiness itu sendiri. Ia merupakan kekosongan yang meliputi segala-galanya. Sedangkan Tuhan sebagai pengawas dan pemberi adalah sebuah entitas yang memang menyelenggarakan permainan di bumi ini. Mereka mengawasi kita, menilai kita, menciptakan jebakan dan permainan serta merayu agar manusia tetap dalam penjara mind!

Inilah kesulitan bahasa para Nabi pada jaman dahulu ketika ia harus berbicara tentang Sang Sumber yang memang diluar jangkauan mind. Keterbatasan jangkauan inilah yang menyebabkan para Nabi harus menurunkan pemahaman pada tingkat yang bisa dipahami oleh pendengarnya. Setidaknya manusia merasa diawasi, merasa dinilai, merasa direncanakan sehingga tidak berbuat semau sendiri di dalam hidup. Dengan kata lain ada yang harus dipertanggung jawabkan.

Namun ternyata Tuhan ini adalah mereka, dan jumlahnya memang tidak hanya satu! Dalam beberapa ayat suci hal ini disamarkan dengan kata ‘Kami’. ‘Kami’ inilah sebuah entitas yang memberikan rejeki, memberikan atau meluluskan permintaan. ‘Kami’ atau para Tuhan ini menempati sebuah dimensi yang menggulirkan permainan di bumi sehingga kita menyebutnya sebagai panggung sandiwara!

Ya, inilah sandiwara! Sandiwara yang digelar oleh para Tuhan untuk permainan mereka, untuk eksplorasi mereka tentang mind! Dimana tempat mereka? Disebutkan mereka menempati singgasana di langit ketujuh. Apapun sebutannya, entah itu langit ketujuh atau arsy, hal tersebut tetap merujuk ke sebuah tempat yang masih dapat dinilai oleh mind. Artinya bila hal tersebut masih dapat dinilai oleh mind, ia akan berada di bawah atau setara dengan mind itu sendiri.

Kalau kita mengenal bahwa alam semesta ini tidak tunggal, artinya ada alam semesta lain di samping alam semesta yang kita kenal saat ini, maka tidak tertutup kemungkinan tempat yang terjangkau oleh penilaian mind, tempat para Tuhan tersebut adalah salah satu galaxy di alam semesta di luar alam semesta kita. Dari sanalah mereka mengendalikan kita, semua kehidupan di bumi ini.

Sang Sumber bukanlah para Tuhan tersebut. Ia tidak berurusan dengan penilaian, tidak berurusan dengan hukuman, tidak berurusan dengan meluluskan permintaan, tidak berurusan dengan permainan kehidupan. Ia tidak berada di suatu tempat.

Karena ia tidak berada disuatu tempat, maka ia berada di luar jangkauan mind. Untuk menuju kepada Sang Sumber, jalan satu-satunya adalah keluar dari penjara, yaitu melampaui Mind! Selama dogma masih melekat, selama believe masih terbangun kuat, kita terpenjara dalam mind yang memisahkan kita dari sang Sumber dan hanya melihat adanya Tuhan.

Dalam evolusi mind masa lalu, dimana hadirnya para Nabi dibenturkan oleh kehidupan masyarakat terbelakang, maka dengan sangat terpaksa mereka hanya menyandangkan kata Tuhan untuk ‘mereka’ yang mengatur kita, dan bukan menyandangkan kata Tuhan untuk Sang Sumber. Namun sekali lagi, berbagai metafora tentang Tuhan yang disebut sebagai ‘kami’ tentu akan menyadarkan bahwa apa yang mau disampaikan oleh para Nabi tentang Sang Sumber dibungkus rapi karena keterbatasan pemahaman pendengarnya.

Tuhan sangat mungkin ditemui di Surga. Entitas sebagai ‘mereka’ tersebut menempati sebuah tempat di sebuah galaxy di luar alam semesta ini yang dikenal dengan planet Svarga. Dari sanalah mereka mengatur kita dalam segala aspek kehidupan.

Namun tentu saja tujuan perjalanan kita bukanlah Tuhan tersebut, dan bukan singgah di Svarga yang merupakan penjara baru disamping bumi.

Para Nabi akan diam seribu bahasa saat ditanya tentang Sang Sumber dan para Nabi hanya bisa menjelaskan tentang Tuhan. Sang Sumber tidak dapat dijelaskan, namun ia harus dialami dalam pengalaman-pengalaman pelampauan Mind. Dan Tuhan memang dapat dijelaskan! Kemudian para Nabi menjelaskan Tuhan dalam sifat-sifat yang bisa diraba dan dijelaskan dimana hal itu merupakan sifat dualitas.

Kita sedang amnesia, dan tentu saja dalam kondisi tersebut akan banyak yang memilih untuk tetap amnesia sepanjang masa karena ternyata amnesia itu nyaman!

Perhatikan:

Bila anda memahami Allah sebagai tempat curhat, sebagai tempat meminta, sebagai Dzat yang mengabulkan doa anda, sebagai Dzat yang menghukum karena doa dan memberi Pahala kebaikan, maka Allah yang anda pahami demikian bukanlah Sang Sumber!

Allah yang anda pahami demikian adalah entitas Tuhan seperti saya uraikan diatas. Dan sekali lagi, Allah yang seperti itu jumlahnya banyak. Merekalah yang menyelenggarakan permainan di dunia ini dengan segala hukum-hukumnya..

Inilah yang saya katakan bahwa agama tidak akan dapat mengantarkan anda kepada ‘Tuhan’ (Sang Sumber). Agama hanya akan mengantarkan anda kepada Tuhan atau Allah yang memberi, yang mengabulkan, yang menghukum, yang mempunyai sifat dualitas.

Sifat dualitas itu seperti apa? Anda perhatikan 99 nama Tuhan dalam Islam. Itulah dualitas! Karena Sang Sumber adalah Maha Segalanya yang tak tersentuh sifat apapun juga.

 

Love & Blessing

Leave a response