0 items in your shopping cart

No products in the cart.

SHOLAT DAN MENDIRIKAN SHOLAT; APA MAKNANYA?

Sebelumnya saya akan melihat dulu secara bahasa. Secara bahasa, kata sholat menurut para pakar bahasa adalah berarti doa. Shalat diartikan dengan doa, karena pada hakikatnya shalat adalah suatu hubungan yang dilakukan antara manusia dengan apa yang dianggap sesuatu yang lebih tinggi dari dirinya, dalam hal ini adalah Tuhan.

Kemudian apakah perintah Sholat kepada Nabi Muhammad diterima pada saa Isra Miraj? Bila iya, maka sebelum peristiwa Isra Miraj apakah Nabi Muhammad tidak melakukan sholat?

Kita lihat dari sisi bahasa terlebih dahulu. Bila sholat adalah doa, maka jelas bahwa sebelum peristiwa Isra Miraj-pun nabi Muhammad sudah melakukan doa. Karena beberapa riwayat menyebutkan bahwa Muhammad yang belum menjadi Nabi bolak-balik melakukan permenungan diri di gua hira. Apa yang dilakukan? Tentu saja salah satunya adalah doa atau diartikan sholat tersebut.

Nah, apabila Muhammad (saya tuliskan kata Muhammad dan Nabi Muhammad – untuk membedakan individu yang belum diangkat sebagai nabi dan yang sudah diangkat sebagai nabi), apabila Muhammad sudah melakukan sholat jauh-jauh hari sebelum peristiwa Isra Miraj, mengapa dalam peristiwa Isra Miraj disebutkan baru diterima perintah sholat pertama kali dari Tuhan?

Pada saat Muhammad melakukan sholat (baca: doa) sebelum peristiwa Isra Miraj, maka sholat yang dilakukan adalah jalan individu atau laku spiritual pribadi dari Muhammad. Dan pada tahap ini Muhammad belum berpikir untuk mengajarkan teknik tersebut kepada orang lain, karena ia sedang menyelami dan harus mengalaminya sendiri.

Pada saat peristiwa Isra Miraj terjadi, dan ini merupakan titik kulminasi dari teknik sholat yang dilakukan oleh Muhammad, maka terjadilah ‘overflowing’, yaitu blissfulness, luapan cinta yang dahsyat akan hubungan seorang Muhammad dengan apa yang disebutnya sebagai Allah.

Setelah itu peran kenabian harus difungsikan. Mengapa difungsikan? Karena teknik ini berhasil membawa Muhammad kepada puncak spiritual tertinggi yang ditandai dengan Isra Miraj. Puncak spiritual yang digapai tersebut menyebabkan Nabi Muhammad sangat mudah mendengarkan wahyu yang ‘turun’ padanya.

Karena peran kenabian sudah berfungsi, maka Nabi Muhammad harus ‘sharing’ kepada sahabat-sahabatnya apabila mereka bertanya dan akan menempuh perjalanan spiritual yang sama. Untuk itu kemudian lahirlah sholat yang sebenarnya merupakan hal yang sama yang dilakukan oleh Muhammad sebelumnya. Hanya saja bahwa sebelumnya sholat merupakan laku individu, setelah ditandai dengan turunnya perintah sholat, maka sholat menjadi laku ‘kelompok’.

Apa dan seperti apa sholat itu?  Apabila kita melihat di dalam Quran maka tidak ada satu teknik sholat yang dijelaskan disana.  Dalam surah Ibrahim 14:31: Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: Hendaklah mereka mendirikan salat, menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan

Disebutkan: Dirikanlah sholat.  Bahkan pada ‚ÄČAl-Anbiya’ 21:72-73: dan Kami telah memberikan kepada-nya (Ibrahim) lshaq dan Ya’qub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami), dan masing-masingnya Kami jadikan orang-orang yang saleh. Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah.”  Artinya bahwa sebelum Muhammad diangkat nabi dan sebelum jaman Muhammad, sejak Ibrahim, mereka sudah mendirikan sholat.

Bagi saya, Sholat merupakan doa yang harus didirikan. Saya beri tanda disini: DOA YANG HARUS DIDIRIKAN. Mengapa mendirikan? Bagaimana mendirikan doa? Berdiri adalah sebuah simbol tentang “hadir penuh saat ini” atau ‘present’ Orang yang mendirikan sholat maka ia akan blissfulness, enjoyment dan selalu merayakan hidupnya. Makanya disebutkan bahwa Sholat akan mencegah perbuatan keji dan munkar.

Bila seseorang ‘hadir penuh saat ini’ maka ia akan diliputi kesadaran yang tidak dihitung tentang untung rugi, tidak bertumpu kepada pikirannya. Maka otomatis ia tidak akan melakukan perbuatan keji dan munkar. Perbuatan keji dan munkar lahir dari pikiran yang penuh hitungan untung rugi dan pertimbangan.  Saat ini, apabila sholat hanya dipahami sebagai ritual formal dan tindakan untuk menggugurkan kewajiban, maka bagaimana ia akan dihayati atau bahkan dialami sebagai sebuah teknik olah spiritual yang dapat menghantarkan kepada pencerahan?

Bila hanya dilakukan sebagai ritual formal dan tindakan untuk menggugurkan kewajiban, maka ia tak dapat melahirkan kondisi ‘hadir penuh saat ini’ atau ‘present’. ‘Mendirikan Sholat’ adalah mengubah arah kesadaran dari logika kepada sumber hidup manusia.

 

Love & Blessing

Leave a response