0 items in your shopping cart

No products in the cart.

MELEPASKAN BEKAL KITA

Banyak orang mengatakan kita perlu ‘bekal’ untuk kehidupan berikutnya.

Mereka melakukan tindakan yang disebut sebagai ‘amal soleh’, anjuran agama, dan sederet tindakan kebaikan lainnya.

Betulkah hal itu sebagai bekal untuk kehidupan berikutnya?

Apakah benar untuk melanjutkan perjalanan tanpa raga kita mesti membawa bekal?

Kita hidup di Bumi. Untuk itu tempat ini punya peraturan-peraturan dan pajak tinggal yang harus kita bayar, apabila kita ingin hidup sejahtera di bumi ini. Peraturan bumi sangat sederhana, yaitu ‘siapa menanam mengetam – siapa menabur buih akan menuai badai’ (tabur-tuai)

Karena kita tinggal sementara di bumi ini, alias ‘ngontrak’ maka kita perlu bayar pajak atau sewa tempat.

Apa yang dikenal selama ini sebagai ‘amal soleh’ dan sederet tindakan kebaikan lainnya adalah bentuk bayar pajak selama di bumi. Mengapa saya mengatakan demikian? Karena tindakan-tindakan tersebut merupakan implementasi dari ‘tabur-tuai’

Keberlimpahan yang ingin digapai, kesejahteraan yang ingin diwujudkan adalah buah dari bayar pajak tersebut.

Ingin sejahtera dan hidup dalam keberlimpahan? Silahkan bayar pajak kontrak tinggal anda di bumi ini! – Jadi disini tidak ada alasan untuk tidak melakukan tindakan amal sholeh, karena hal tersebut merupakan pembayaran pajak kontrak tinggal kita di bumi ini.

Kalau tindakan yang dikatakan seperti ‘amal soleh’ bukan merupakan bekal untuk kehidupan selanjutnya, lantas adakah bekal tersebut? Saya katakan dengan tegas: tidak ada!

Justru untuk menuju kehidupan selanjutnya tanpa raga kita harus melepaskan segala macam bekal yang dulunya bercokol di pikiran sebagai bentuk keterikatakan, termasuk keterikatan terhadap apa yang sudah kita namakan ‘amal sholeh’.

Pengetahuan anda yang didapat dari buku, dari padepokan spiritual, dari seorang guru, semua harus dilepaskan karena dapat menjelma sebagai keterikatan pengetahuan yang merasa dimiliki.

Lalu mengapa para pemuka agama menjelaskan bahwa ‘amal sholeh’ adalah bekal di kehidupan selanjutnya? Ya, ini terpaksa dikatakan daripada manusia tidak melakukan amal sholeh, karena bagaimanapun pajak kontrak tinggal tetap harus dibayar. Jadi tujuan minimal dengan mengatakan bahwa ‘amal sholeh’ merupakan bekal kehidupan selanjutnya, adalah agar manusia melakukannya dan dengan demikian secara tak sengaja dia sudah memenuhi bayar pajak di bumi ini.

Padahal hal ini tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan selanjutnya.

Namun, tindakan melakukan amal sholeh dapat dijadikan ajang latihan untuk melepas keterikatan sehingga perjalanan kita ke kehidupan selanjutnya dapat ditempuh dengan lancar tanpa belenggu mental yang telah dibentuknya sendiri sebagai keterikatakan terhadap anggapan tindakan-tindakan yang baik selama di bumi.

Jadi apa yang harus dipersiapkan untuk perjalanan selanjutnya tanpa raga? Yaitu lepaskan segala macam bentuk apa yang anda anggap sebagai bekal kehidupan!

Pada titik ini, anda akan masuk dalam state present time. Yaitu menikmati kekinian di bumi! Menikmati pesta kehidupan anda yang dengan kesadaran penuh anda tetap memenuhi pembayaran pajak anda karena anda telah tinggal di bumi ini. Di sisi lain anda tidak berpikir bahwa tindakan bayar pajak anda berhubungan sebagai bekal kehidupan selanjutnya (detachment)

Semakin anda berpikir bahwa amal sholeh merupakan bekal kehidupan selanjutnya bagi anda, maka pikiran bawah sadar anda akan mengkalkulasikan hitungan apakah anda sudah melakukannya atau belum. Dengan demikian anda menciptakan keterikatan terhadap hal tersebut. Dan keterikatan terhadap sudah melakukan amal sholeh inilah yang malah menghalangi anda dalam perjalanan di kehidupan selanjutnya.

Untuk mempersiapkan perjalanan kehidupan selanjutnya, memang tidak ada cara lain kecuali melepaskan segala macam bentuk keterikatan pikiran, termasuk keterikatan terhadap apa yang dianggap bekal itu sendiri.

Pertanyaan reflektif yang dapat kita ajukan kepada diri sendiri adalah,

Apakah saya masih menumpuk pengetahuan dan tidak melatih untuk detachment terhadapnya, dan apakah saya sudah mulai membersihkan sampah-sampah pikiran saya?

Dan kalaupun anda masih ingin mempertahankan pertanyaan, apakah bekal untuk kehidupan selanjutnya? Maka jawabannya adalah, bekal tersebut adalah melepaskan apa yang selama ini anda anggap sebagai bekal itu sendiri!

 

Love & Blessing

Leave a response