0 items in your shopping cart

No products in the cart.

MEKANISME TUHAN

Tuhan sebagai entitas tentu saja mempunyai sifat yang disandangkan. Kenapa Tuhan dapat disandangkan sifat sedangkan kita tahu bahwa segala hal yang bersifat adalah sesuatu yang masih ada dalam ‘dualitas’ atau area mind?

Sekali lagi ini adalah sebuah tindakan sengaja oleh para master ketika ia terdesak dan harus menjelaskan Sang Sumber Kehidupan. Para pendengar yang latar belakangnya adalah menyembah kekuatan yang dimanifestaikan dengan wujud tampak yaitu patung, bangunan, pohon, batu, yang dipercaya dapat memberikan pertolongan-pertolongan sesuai harapannya. Para pendengar yang telah terpaku dengan dogma sebelumnya, yang mengatakan bahwa “yang dapat menolong adalah sesuatu yang dapat dijelaskan”. Saat itu mereka tidak menyadari bahwa pertolongan-pertolongan tersebut dapat hadir dari alam energi atau alam pikiran.

Untuk itu sang master sedikit merevisi dengan akulturasi yang ada. Yaitu tidak merombak total dari dogma yang ada melainkan menyederhanakan dan mengajak naik sedikit dari tingkat mind ke tingkat entitas Tuhan.

Apabila manusia meminta dari alam energy atau alam mind (ini sangat bisa terjadi) maka bantuan yang datang masih terdistorsi oleh keinginan-keingan kasar, ambisi-ambisi ‘jahat’, atau sebuah atensi yang belum dapat dipuaskan oleh sesuatu yang berasal dari alam energy atau alam mind ketika ia hidup di alam fisik.

Untuk itu sang Master mengenalkan entitas Tuhan sebagai Maha pemberi dan Maha penolong. Entitas ini sudah jauh lebih bagus dari entitas energy dan mind. Dan apa yang diharapkan sebagai pemberian atau pertolongan sudah bebas dari keinginan-keingan kasar, ambisi-ambisi ‘jahat’, atau sebuah atensi yang belum dapat dipuaskan di alam fisik. Entitas Tuhan ini memang maha penolong dan maha pemberi. Apapun permintaan manusia yang dilakukan dengan vibrasi yang tepat dan tidak menyalahi hukum-hukum alam yang telah digelar oleh entitas ini maka akan diberi pertolongan.

Dalam sebuah masyarakat yang masih percaya dan mengharapkan pertolongan dari kekuatan di atasnya, maka sangatlah tidak mungkin diberi pemahaman bahwa Tuhan itu sebagai Sang Sumber yang tak terjelaskan dan tak tersentuh oleh apapun juga meskipun itu adalah sifat-sifat dualitas yang disandangkan.

Tuhan sebagai Sang Sumber yang disimbolkan oleh orang Jawa sebagai ‘tan keno kinoyo ngopo’ yang tidak menolong, tidak memberi, tidak berbuat apapun juga, meliputi segala sesuatu yang ada di alam raya, jelas tidak akan terpahami.

Kalau Tuhan sebagai Sang Sumber tidak melakukan apa-apa lalu apa fungsinya? Kalau Tuhan sebagai Sang Sumber juga tidak menciptakan lalu siapa yang menciptakan?

Terdesak oleh argumentasi yang dibutuhkan oleh mind, sedangkan Sang Sumber adalah sebuah pengalaman bukanlah sebuah penjelasan, maka sang master harus menurunkan pemahamannya agar pendengarnya dapat memahami. Setidaknya para pendengar meningkat dari Tuhan yang dipahami sebelumnya yang sebagai entitas energy dan mind, menjadi entitas Tuhan itu sendiri.

Entitas Tuhan masih dapat disandangkan sifat-sifat. Masih dapat melakukan pemberian maupun pertolongan.

Entitas Tuhan kemudian mengatur kehidupan di alam semesta yang dikenal manusia saat ini dengan menggelar hukum-hukum alam semesta yang merupakan koridor-koridor dari tindakan manusia agar ‘selamat’ dalam permainannya. Belakangan marak dengan pengetahuan ‘laws of universe’. Berapa jumlahnya entitas Tuhan ini?

Apabila kita bicara berapa jumlahnya, maka siapapun manusia yang melakukan pelepasan dan menuju ke Sang Sumber untuk menyatu kedalam keabadian di alam ‘suwung’ akan melewati etape ini. Dan sangat mungkin akan singgah di sini untuk waktu yang lama guna menikmati peran dan menjalankan peran entitas Tuhan tersebut.

Entitas ini tidak tunggal dan selalu dibahasakan dengan istilah ‘kami’ apabila berkaitan dengan pemberian dan pertolongan.

Lalu Sang Sumber yang selalu dibahasakan tunggal dengan istilah ‘Aku’ adalah merujuk kepada yang tak tersentuh oleh apapun juga.

Laws of Universe ini adalah mekanisme dari entitas Tuhan untuk mengatur permainan di Bumi ini. Ini adalah aturan utama permainan atau bagian dari Grand Plan mereka. Karena ini adalah aturan main, maka ketika manusia ‘terlanjur’ berada di Bumi ini maka untuk bermain yang cantik, untuk bermain yang bagus haruslah mengikuti aturan-aturan main tersebut.

Bisa saja seseorang tidak beragama dan tidak percaya Tuhan (namun percaya Sang Sumber) namun dia tidak akan bisa lepas dari laws of universe ini. Apabila tindakannya melanggar dari laws ini maka keseimbangan akan menyeimbangkan dirinya sendiri.

Karena laws ini merupakan sebuah system, maka tanpa berdoa kepada Tuhan-pun seorang manusia dapat mendapat apa yang dia usahakan! Dengan catatan ia memenuhi laws of universe yang saling berkaitan ini. Untuk itulah berkali-kali sang master bicara bahwa ‘kehidupan ini hanyalah senda gurau belaka’.

Mau menang dalam permainan? Yuk kita ikuti aturan main!

Sebagai tambahan pengetahuan, bahwa system yang digelar atau laws of universe ini adalah:

  1. The Law of Divine Oneness (Hukum kesatuan asal usul)
  2. The Law of Vibration (Hukum Vibrasi)
  3. The Law of Correspondence (Hukum Kesesuaian)
  4. The Law of Cause and Effect (Hukum Sebab Akibat)
  5. The Law of Reciprocation (Hukum Berbalas)
  6. The Law of Reciprocity (Hukum Timbal Balik)
  7. The Law of Compensation (Hukum Penggantian atau Kompensasi)
  8. The Law of Attraction (Hukum Ketertarikan)
  9. The Law of Expectation (Hukum Pengharapan)
  10. The Law of Action (Hukum Tindakan)
  11. The Law of Faith (Hukum Keyakinan)
  12. The Law of Perpetual Transmutation of Energy (Hukum Perubahan Energi tanpa Henti)
  13. The Law of Relativity (Hukum Relativitas)
  14. The Law of Polarity (Hukum Kutub yang Berlawanan)
  15. The Law of Forgiveness (Hukum Pemaafan)

The Law of Allowing atau the Path of Least Resistance (Hukum Menerima segala sesuatu dengan Ikhlas)

Mau hidup ‘bejo’ dalam kehidupan nyata? Sungguh bukan hal yang susah. Apapun tindakan anda baik itu dalam pekerjaan, bisnis, maupun keseharian selaraskan dengan hukum-hukum tersebut. Namun kehidupan yang ‘bejo’ tersebut juga terkait dengan bisikan-bisikan ego states dan bagian-bagian diri yang harus anda kenali. Anda sudah menjalankan semua ‘laws’ tersebut namun anda berkali-kali terjebak dengan bisikan ego states yang menjerumuskan, bagaimana akan menjadi ‘bejo’? Untuk itu anda juga harus mengenali bagian-bagian diri anda yang menyusun anda dan yang bukan ‘anda’.

Laws of Universe ini sudah dikenali dalam satu tradisi agama yang disandangkan menjadi sifat-sifat entitas Tuhan. Hukum-hukum ini dikenal dengan 99 nama Tuhan!

  1. The Law of Divine Oneness (Hukum kesatuan asal usul) – Al-Malik (Maha Memiliki Menguasai Seluruh Alam) – Al-Mubdi (Maha Pencipta dari Asal)
  2. The Law of Vibration (Hukum Vibrasi) – At-Tawwaab (Maha Menerima Taubat)
  3. The Law of Correspondence (Hukum Kesesuaian) – Al-Adl (Yang Mempunyai Keadilan)
  4. The Law of Cause and Effect (Hukum Sebab Akibat) – Al-Hakam (Maha Mengadili)
  5. The Law of Reciprocation (Hukum Berbalas) – Al-Muntaqim (Maha Pembalas Dendam)

Selanjutnya silahkan lihat kembali sifat-sifat yang disandangkan tersebut yang berjumlah 99. Apabila keselarasan tindakan selalu dihubungkan dengan hukum 99, maka kehidupan akan selaras adanya.

Sang Master sedang mengajarkan laws of universe dalam bahasa para pendengarnya.

Lalu sekarang, apakah 99 tersebut adalah nama Tuhan? Anda sekarang sudah mempunyai perspektif yang lebih maju untuk memahami laws of universe dan membedakan dengan Entitas Tuhan, apalagi Sang Sumber!

 

love & Blessing

Leave a response