0 items in your shopping cart

No products in the cart.

KITAB SUCI ‘OSHO’

Ketika agama dibatasi oleh oknum yang tidak berterus terang tentang sisi-sisi agama  yang humanis dan universal dan ketika kitab suci yang ada selalu dibungkus oleh metafora yang tidak dibuka secara gamblang, maka sebagian manusia bertanya-tanya, “Seperti apa kebenaran itu?”

Setiap manusia akan melakukan perjalanan pencarian entah dari etape mana dan dari sisi apa. Pencarian tersebut terkadang berubah menjadi pembenaran dari apa yang selama ini ingin dilakukan namun dibatasi oleh agama dan kitab sucinya. Mereka lari dari agama atau lebih kerennya dikatakan menjadi tidak fanatik, menjadi lebih universal atau menjadi lebih ‘plural’. Pelarian itu menuju kepada kelompok-kelompok yang dinamakan kelompok spiritual. Apakah itu salah? Tentu saja tidak.

Mengapa sebagian orang sangat suka berada di kelompok spiritual di luar agama? Walaupun tidak semua (karena tiap orang punya etapenya sendiri) adalah karena bebas dari kewajiban rutin yang disarankan oleh agama. Setidaknya ada pembenaran untuk tidak melakukan disiplin-disiplin dalam agama sebelumnya.

Betulkah kelompok spiritual adalah mereka yang telah melampaui agama?  Yang sudah dapat melepaskan belenggu dan batas-batas agama yang mereka anggap sebelumnya saling memisahkan satu dan lainnya? Atau sedang menciptakan fanatisme baru?

Apabila kelompok spiritual menjadi ajang pelarian, maka seseorang hanya memindahkan masalah satu ke masalah lainnya. Dari kemelekatan yang satu ke kemelekatan lainnya. Sebenarnya ia tidak kemana-mana. Ia hanya mengulang masalah yang sama. Kalau dalam agama seseorang akan mengagung-agungkan Nabinya, maka dalam kelompok spiritual seseorang akan mengagung-agungkan gurunya. Kalau dalam agama seseorang akan menjadikan kitab suci sebagai referensi hidupnya, maka dalam kelompok spiritual kata guru atau tulisan sang guru akan menjadi referensi hidupnya.

Dulu, ketika saya mengenal tulisan-tulisan Osho (walau tidak ditulisnya sendiri – namun dibukukan oleh murid-muridnya dari ceramah yang didengarnya) belum ada internet, belum ada ebook yang dapat diunggah mudah dari google. Saya mengenalnya dari perpustakaan Teosofi besar di kota Brisbane, Belanda, London, dan Los Angeles. Tulisannya yang sangat berani tidak bisa masuk ke Indonesia saat itu. Lalu ketika saya mendapat kesempatan untuk dapat berkunjung ke Poona (belum jaman hape kamera), saya merasakan sendiri atmosfer pengkultusan Osho. Mungkin ini sama ketika seseorang yang fanatik Islam berkunjung ke Mekah atau ordo tarekat yang bertemu dengan mursyidnya.

Apakah itu salah? Sekali lagi tidak salah.

Manusia (terkadang saya sendiri) sering lupa terhadap masalah yang dihadapinya. Bila ia tidak nyaman dengan agama yang ada, masalahnya apa? Kalau ia tidak mau membaca kitab sucinya, masalahnya apa? Banyak yang tidak mau mencari masalah sebenarnya dan memilih melarikan diri dari itu semua.

Bagi sebagian orang (yang saya kenal) menjadikan buku Osho sebagai kitab suci baru. Dan juga menjadikan Osho dikultuskan sebagai manusia yang dianggap mencapai pencerahan tanpa cacat. Kalau dalam group-group agama, banyak yang copy-paste ayat dari kitab suci untuk dibagikan, maka hal ini sama,  yaitu copy-paste tulisan-tulisan Osho. Apa yang terjadi? Bagi saya, kita terjebak dengan masalah yang sama. Masalah kemelekatan yang sama, masalah fanatisme yang sama, masalah pengkultusan yang sama.

Kalau dalam agama, bila agamanya merasa disinggung, Nabinya disinggung, Tuhannya disinggung, maka ia merasa harus membela agamanya. Dalam kelompok spiritual ini juga terjadi, yaitu membela Aqidah Spiritualnya! Cerita-cerita tentang guru spiritualnya yang mumpuni, mencapai pencerahan paripurna, Guru yang paling tahu, adalah cerita-cerita yang harus dilindungi. Ketika ada yang mengatakan bahwa guru spiritualnya orang biasa, belajar juga dari buku, bertanya kalau tidak tahu, maka ia harus mempertahankan cerita legendaris bahwa sang guru dituntun langsung oleh Tuhan tanpa perantara apapun juga.

Apabila ajaran Osho menjadi lembaga dan tulisannya menjadi kitab suci, maka sebaiknya menilik kembali terhadap apa yang pernah diceramahkan oleh Osho sendiri, bahwa Osho tidak berkepentingan dengan mendirikan agama, menulis kitab suci dan menciptakan Tuhan baru, atau bahkan melembagakan pemikiran-pemikirannya.

Osho pernah hidup, dan selama ia hidup ia menjadi ‘Living Master’. Ketika di kemudian hari apa yang diucapkannya dibakukan, dijadikan aturan dan dogma baru, maka Osho tak ubahnya seperti daun kering tertiup angin. Dan manusia yang melakukan hal tersebut tengah berhenti berjalan karena ia melekat terhadap Osho dan terjebak dengan Melahirkan dogma baru, yaitu ajaran Osho, serta kitab suci baru, yatu buku Osho.

Bila anda mengecam kepada orang-orang yang fanatik terhadap agama dan sekarang anda menjadi fanatik terhadap spiritual dan mengkultuskan guru spiritual baru anda sebagaimana orang beragama mengkultuskan utusan-utusannya, lalu apa bedanya?

 

Love & Blessing

7 Comments

Leave a response