0 items in your shopping cart

No products in the cart.

GOD IS DICTATOR

Tuhan menjadi diktator yang terbesar dalam hidup anda, apabila anda menerima kisah yang menyatakan bahwa dia sebagai pencipta alam semesta dan juga pencipta manusia.

Bagaimana tidak?

Jika Tuhan yang menciptakan merupakan sebuah realita, maka manusia hanyalah boneka, hanyalah tahanan dimana manusia tidak punya kuasa apapun atas dirinya. Tidak akan ada spiritualitas, tidak akan ada jalan pencerahan, tidak akan ada nabi, karena manusia tidak punya kebebasan dalam hidupnya. Semua hal pada manusia ditentukan oleh Tuhan, dan manusia tidak dapat membantahnya apalagi menentukan semaunya sendiri.

Karena manusia hanyalah boneka dan yang menjalankan adalah Tuhan, maka kebebasan apa yang dimiliki manusia? sebuah boneka tidak mempunyai tanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya. yang bertanggung jawab adalah yang menjalankannya.

Bila manusia hanyalah boneka dan Tuhan yang menjalankannya, maka manusia tidak punya tanggung jawab apapun atas apa yang dilakukannya. Mau membunuh, berdoa, ibadah, mencuri, maka yang bertanggung jawab adalah Tuhan, toh manusia hanya sekedar boneka semata. untuk membebaskan dari peran boneka dan dapat bertanggung jawab penuh terhadap dirinya, maka ucapan Nietzsche menjadi berguna, yaitu: ‘Tuhan telah mati’ Ketika Tuhan telah mati, maka surga dan neraka menjadi tidak ada.

Saat tidak ada Tuhan, tidak ada surga, tidak ada neraka, maka pertanyaannya adalah: Anda hidup darimana dan untuk apa?

Beberapa master sengaja menghilangkan Tuhan dalam hidupnya, namun bukan Atheist. Mengapa? Karena dengan adanya Tuhan banyak manusia yang kemudian mengkambing hitamkan Tuhan karena kesalahannya sendiri.

Manusia sering berucap: “sedang diuji oleh Tuhan”.  Bila agama anda menyodorkan bahwa Tuhan menciptakan anda, dan semua hidup anda ditentukan oleh Tuhan, maka jangan-jangan agama anda sedang dengan sengaja memasukkan anda dalam penjara! Mereka sedang dengan sengaja membuat anda mudah diberi mimpi kebebasan dan tempat yang lebih layak daripada penjara.

Atau agama anda memang sengaja membuat anda tidak berdaya dan membuat anda menjadi budak yang selalu mengemis terhadap majikannya untuk sebuah kebebasan!

Sangat menarik mengemukakan kembali apa yang ditulis oleh Nietzsche pada posting saya sebelum ini, yaitu “Tuhan telah mati” kemudian berlanjut kepada sebuah paradigma bahwa God is the Greatest dictator.

Sahabat saya, mas Komang Suta Wirawan juga menambahkan cerita tentang Zarathustra bahwa di pasar sang master ini berteriak-teriak bahwa Tuhan telah mati dan banyak orang kepanasan dengan teriakannya.

Tuhan telah mati atau Tuhan masih hidup bukanlah pokok utama dalam membahas kata-kata Nietzsche

Tuhan sebagai pencipta atau Tuhan sebagai diktator juga bukan pokok utama dalam melihat posting ini

Anda sebagai budak atau anda bebas itu juga bukan pokok utama dalam melihat paradigma God is the greatest dictator

Kita menjadi extrem ketika kita berusaha mempertahankan pendapat saat melihat ada sesuatu yang sangat berseberangan dengan kita.

Selama ini mungkin kita yakin bahwa kita adalah hamba Tuhan, kita diciptakan oleh Tuhan, dan kita diatur oleh Tuhan. Kemudian membaca bahwa Tuhan sebagi diktator lantas kita merasa perlu melindungi apa yang dinamakan akidah dan menjadi ekstrem dalam mempertahankan keyakinan tersebut.

Kembali kepada Nietzsche, Kapan Nietzsche mengatakan statement tersebut? Saat ia dalam penjara! – Ya, saat sebelumnya ia merasakan bahwa semua hal membelenggunya sampai ia dibawa ke penjara.

Di sana ia merasakan bahwa kebebasan yang sesungguhnya adalah ketika Tuhan telah mati! Saat kita tahu latar belakang Nietzsche melahirkan kalimat tersebut, maka kita juga memahami Nietzsche, bahwa kalimat yang dilahirkannya sebagai bentuk pelarian dan bukan kebebasan itu sendiri. ‘Hal itu menjadi berbeda ketika seorang Nietzsche adalah pelaku meditasi. Namun di sini sosok Nietzsche memang seorang pemikir dan filosof yang memikirkan tentang kebebasan. ” Apakah Tuhan benar-benar mati?”

Ide dari kalimat ‘Tuhan telah mati’ lahir dari rasa sakit, ketakutan dan kemarahan. Apabila Tuhan tidak dilahirkan, maka bagaimana Ia dapat mati? Apabila Tuhan merupakan awal dan akhir, maka bagimana Ia ada?

 “God has never been there”

Sampai di sini, kita melihat sebuah Paradoks tentang Tuhan. Tidak ada yang melahirkan Tuhan – Tuhan tidak dilahirkan oleh apapun juga, jadi bagaimana Tuhan dapat mati?

Tuhan tidak diciptakan oleh apapun juga, jadi bagaimana Ia dapat menciptakan anda?

Ketiadaan, kekosongan tidak dapat melahirkan realita! Sama seperti posting saya tentang Theist dan Atheist. Apabila yang dipermasalahkan adalah ada Tuhan dan tidak ada Tuhan, maka kita tidak menyentuh hal yang esensial. Apabila hal itu menjadi extrem anda, maka anda akan bisa menghakimi bahwa saya tidak percaya Tuhan, saya atheist!

“God has never been there”

Tuhan tidak pernah ada disini. Cerita tentang Tuhan ada karena anda hadirkan. Anda menghadirkannya karena ketakutan, kecemasan, kemarahan. Bahkan rasa takut akan Tuhan itu sendiri sedang menghantui anda. Kehidupan anda penuh ketakutan. Ada ancaman, aturan ketat, pelanggaran, surga-neraka. Karena ketakutan tersebut maka anda menghadirkan cerita tentang Tuhan.

Di sisi lain, Cerita tentang tidak adanya Tuhan juga anda hadirkan karena ketakutan, kecemasan, kemarahan. Anda ingin bebas kemudian anda menghadirkan cerita bahwa Tuhan tidak ada. Anda takut, maka anda yakin bahwa anda adalah budak Tuhan. Daripada di akherat nanti tidak mendapat ampunan, tidak mendapat surga, maka lebih baik sekarang mengaku ikhlas sebagai budak Tuhan. Ini adalah ketakutan, bahkan the greatest fear!

Di sisi lain, Anda takut, maka anda yakin bahwa anda bukan budak Tuhan. Saat anda meyakini bahwa anda budak Tuhan akan membelenggu anda, akan menyebabkan anda terpenjara, maka anda meyakini bahwa anda bukan budak Tuhan. ini juga merupakan ketakutan, bahkan the greatest fear! Lalu apa yang harus anda yakini?

Baca kalimat ini kembali secara pelan-pelan: “God is the Greatest dictator”

Bila anda memahami, hanya tertawa yang akan lahir dari diri anda!

Takut dalam hidup?

Ya, lalu agama menyodorkan dogma kepada anda. Menyodorkan konsep Tuhan.

Apa yang membuat anda nyaman dalam dogma tersebut? Tuhan melundungi kita Tuhan akan menolong kita Semua sudah dalam lindungan Tuhan Tuhan bersama kita Kenyamanan-kenyamanan tersebut merasa terancam bila Tuhan lenyap! Siapa yang akan melindungi kita? Siapa yang akan menolong kita? Siapa yang bersama kita?

Ya, ternyata masih ada ketakutan akan kehilangan kenyamanan dalam diri anda. Ternyata anda menerima kehadiran Tuhan hanya karena ketakutan, dan bukan karena cinta. Dalam cinta, tidak ada budak dan majikan. Tidak ada hamba dan tuan.

Dalam cinta yang ada hanyalah pecinta dan yang dicintai, yang tidak menyisakan jarak karena cinta. Dalam ketakutan, anda menciptakan jarak. Sehingga anda menciptakan sosok Tuhan sebagai majikan dan anda budak. Manusia takut hidup, bahkan takut dengan kematian. Kemudian dari rasa takut tersebut manusia melahirkan konsep kehidupan setelah mati. Manusia menciptakan Surga, karena takut kematian.

Manusia menyatakan menjadi budak Tuhan karena manusia takut terhadap kehidupan. (*kalau anda benar-benar belajar psikologi bawah sadar seharusnya anda paham bahwa pernyataan seperti itu adalah ketakutan bawah sadar*)

Kalau Tuhan tidak ada, bagaimana hidupku? Siapa yang melindungiku? Bagaimana rejekiku? Kalau aku mati kemana aku kembali? Ketakutan manusia dalam hidup melahirkan fiksi besar dalam hidupnya, yaitu hubungan majikan dan budak.

Seorang Sufi, Sanad, ditanya sama muridnya:

“Guru bagaimana kalau Tuhan tidak ada?”

“Ya, semua akan baik-baik saja”

“Guru bagaimana kalau Tuhan ada?”

“Ya, semua juga baik-baik saja”

“Guru bagaimana kalau kita jadi budak Tuhan?”

“Ya, semua akan baik-baik saja”

“Guru bagaimana kalau kita bebas dari budaknya Tuhan?”

“Ya, semua baik-baik saja”

Sanad sangat menyadari bahwa banyak manusia yang ketakutan dalam hidupnya sehingga tetap menghadirkan fiksi tentang Tuhan. Bahkan ikhlas menjadi budak fiksinya sendiri.

Kemudian Rumi menuliskan dalam puisinya yang indah,

“Ketika kau mencintai, dalam hubungan cinta, tidak ada budak dan majikan.”

 

Love & Blessing

Leave a response