0 items in your shopping cart

No products in the cart.

FITRAH dan MAKNA DARI IDUL FITRI

Sebagian masyarakat mengartikan Idul Fitri adalah hari dimana manusia kembali kepada fitrahnya. Diartikan juga oleh sebagian masyarakat setelah berpuasa selama 30 hari kemudian kembali suci dan hari itu merayakan kesucian yang digapainya. Untuk kembali kepada ‘fitrah’ salah satu jalan yang digunakan adalah ‘berpuasa’. Fitrah yang seperti apa? Puasa yang bagaimana?

Saya memaknai kata ‘Fitrah’ sebagai ‘Nature’ – Alami. Apa itu kehidupan yang alami? Yaitu kehidupan yang berjalan bersama dengan arusnya alam semesta. Ketika mengikuti arus alam semesta otomatis manusia akan mengalami perkembangan alaminya. Sederhananya adalah: Apabila lapar makan, sebelum kenyang berhenti.

Ungkapan: Makanlah apabila kamu lapar dan berhentilah sebelum kenyang, merupakan ajakan kembali kepada ‘fitrah’ – ‘nature’. Puasa, sebuah kegiatan yang dilakukan yang berhubungan langsung dengan makan dan minum (setidaknya itu yang jelas terlihat) bukanlah merupakan tindakan yang menyiksa diri. Seperti posting saya sebelumnya apabila puasa dilakukan dengan semangat menyiksa diri, maka yang timbul adalah halusinasi.

Untuk menghindari ‘penyiksaan diri’ maka sebelum berpuasa diwajibkan bangun untuk makan di waktu sahur dan segera berbuka di waktu matahari terbenam. Karena puasa bukanlah penyiksaan diri, puasa adalah pengendalian diri sehingga manusia dapat kembali kepada kehidupan alamiahnya.

Hal ini sangat berkaitan dengan ucapan Yesus: “Hanya anak-anak kecil yang mempunyai kerajaan Surga”. Penggambaran sebagai anak kecil ini yang merupakan metafora bahwa kehidupan anak kecil masih alami – polos, dan inilah yang dikatakan sebagai ‘fitrah’ atau ‘nature’.

Apa yang menyebabkan manusia jauh dari fitrahnya? jauh dari kehidupan alamiahnya? yaitu KEINGINAN. Dalam bidang kehidupan apapun juga, keinginan akan membenturkan dan kemudian menjauhkan manusia dari track alamiahnya. Dan ini juga terkait dengan posting saya sebelum ini tentang PENGETAHUAN.

Pengetahuan akan menjauhkan manusia dari arus alamiahnya. Bahkan menjauhkan manusia dari ‘surga’ (cerita buah ‘kuldi’ yang dimakan oleh hawa dan adam) – Apabila menyambungkan kata-kata dari Yesus bahwa hanya anak kecil yang mempunyai kerajaan surga, artinya adalah mereka yang kembali ke alamiahnya. Kembali ke polos, mereka yang tidak memakan ‘buah kuldi’.

Idul Fitri, apabila dimaknai sebagai kembali ke Fitrah manusia, alamiahnya manusia, maka selama 30 hari sebelumnya manusia sudah terlebih dahulu berpuasa yang menjadikan kegiatan makan dan minumnya menjadi alami kembali (makan kalau lapar dan berhenti sebelum kenyang) dimana proses dalam kurun waktu satu bulan juga merupakan ajang “unlearn all that you have learned”.

Proses “unlearn all that you have learned” adalah proses detoxifikasi dari buah kuldi yang terlanjur di makan oleh adam dan hawa yang racunnya terbawa sampai kehidupan sekarang.

Setiap perayaan Idul Fitri, kita bisa berkaca kembali, “Apakah kehidupanku sudah kembali alami? Ataukah keinginanku masih mengendalikanku? Atau sampai sekarang bahkan saya masih mencari dan menumpuk ‘buah kuldi’ sebanyak-banyaknya?”

Love & Blessing

Leave a response