0 items in your shopping cart

No products in the cart.

AKAL & PIKIRAN

Saya memisahkan makna kata ‘akal’ dan kata ‘pikiran’. Akal bukanlah bagian yang bekerja untuk analisa, identifikasi, penilaian. Sedangkan pikiran merupakan gudangnya analisa, identifikasi dan penilaian.

Untuk memahami sesuatu, entah itu kehidupan, alam semesta, kitab suci, manusia menggunakan akalnya. Untuk mengetahui sesuatu, entah itu kehidupan, alam semesta, kitab suci, manusia menggunakan pikirannya. Seperti posting saya sebelumnya tentang pemahaman dan pengetahuan. Akal berhubungan dengan pemahaman dan Pikiran berhubungan dengan pengetahuan.

Proses memahami sesuatu tidak dengan melalui mengetahuinya terlebih dulu. Karena proses mengetahui melibatkan pengetahuan. Dan pengetahuan merupakan proses belajar yang menggunakan pikiran untuk meneliti, menelaah dan meng-identifikasi.

Akal melahirkan pemahaman yang berasal dari kesadaran. Seseorang mengheningkan seluruh dirinya (termasuk pikirannya) di sebuah gua dan tiba-tiba dalam proses tersebut ia memahami seluruh misteri kehidupan tanpa belajar.

Seorang Yesus yang dalam proses lakunya melampaui ‘crossroad’ (salib) dari pikirannya ke sumber hidupnya maka di usia yang sangat muda (28 Tahun) ia memahami seluruh misteri kehidupan.

Akal tidak berhubungan dengan umur dan waktu. Pengetahuan berhubungan dengan umur dan waktu. Dalam beberapa kitab suci menyebutkan untuk memahami kitab dengan akalnya. Dan mengetahui hukum-hukum dengan pikirannya. Ini adalah dua hal yang mempunyai konteks berbeda. Semakin seseorang masuk ke dalam proses belajar yang melibatkan pikiran untuk mengetahui, ia akan menciptakan benteng yang semakin kuat untuk memisahkan satu dan lainnya. Dalam proses ini ia tak akan dapat memahami ‘unity’ atau ‘oneness’

Setiap hal yang ia lihat dengan pengetahuan dirinya, dengan pikirannya, maka akan tampak berbeda. Ini tidak sesuai dengan pengetahuanku. Ini tidak cocok dengan apa yang saya ketahui selama ini. Ini logis, ini argumentatif. Ini baik, ini buruk. Ini dosa, ini pahala.

Namun bila akal memahami sesuatu, maka ia melampaui proses pikiran. Kesadaran yang berbicara dalam bahasanya. Sehingga ia memahami tentang ‘unity’ dan oneness’. Kitab suci, selama dikaji dengan pengetahuan akan menimbulkan perbedaan persepsi. Pengetahuan yang satu tidak sama dengan yang lain. Bahkan pengetahuan yang satu meng-klaim lebih tahu dari yang lain.Bila sebuah kitab suci lahir bukan dari proses pengetahuan. Bukan lahir dari proses penelitian dan bukan lahir dari proses berpikir. Mengapa saat ini banyak yang meneliti kitab suci dengan proses pengetahuan dan pikirannya? Sesuatu yang lahir bukan dari proses pikiran, hanya akan dapat dipahami dengan proses yang sama.

Dengan demikian meminjam satu kalimat dari kitab suci yang kira-kira kalimatnya demikian:
“Pahamilah kehidupan dan alam semesta dengan akalmu”. Maka di sana kita diajak untuk tidak menggunakan proses pengetahuan, dengan meletakkan pikiran dan memfungsikan akal kita.

Rahayu.

3 Comments

Leave a response