0 items in your shopping cart

No products in the cart.

AGAMA MERUPAKAN BUDAYA YANG ‘DILEMBAGAKAN’

Saya dulu diberi pengertian bahwa agama berbeda dengan budaya. Agama dikatakan dari Tuhan sementara budaya dikatakan dari hasil budi daya (oleh pikir) manusia. Namun, semakin kesini, agaknya saya harus merevisi apa yang saya pahami tersebut.

Pertama, saya tidak akan membedakan mana yang dari Tuhan dan mana yang dari hasil budi daya manusia. Mengapa? Kalau dibedakan, maka jelas bahwa yang dari Tuhan akan membawa kebaikan, kedamaian, dan cinta kasih. Kemudian yang dari manusia dikatakan belum tentu membawa kebaikan, kedamaian dan cinta kasih, alias ada salahnya.

Akhir-akhir ini banyak peristiwa yang dapat saya jadikan cermin nyata tentang agama dan budaya, kemudian bagaimana saya harus menempatkan keduanya dalam konteks, apakah dari Tuhan atau dari manusia. Apa yang saya jadikan cermin itu? Yaitu tindakan untuk mengalahkan yang lain, bahkan mengancam atau menghancurkannya. Betapa banyak yang berteriak atas nama Tuhan untuk mengalahkan dan mengancam pihak lain yang tidak berada di dalam golongannya. Kalau kita bertanya secara mendasar mengapa ada orang yang berani mengancam atas nama Tuhan dan agama? Tentu akan ketemu jawabannya, yaitu atas dasar kepentingan. Walaupun banyak yang berargumen bahwa ia sedang menegakkan kebenaran di jalan Tuhan, tentu saja ini sangat relatif sekali. Karena kebenaran yang dipaksakan hanya akan jadi tindakan pembenaran semata.

Kalau agama dapat dijadikan alat ancam dan Tuhan dijadikan tempat meminta untuk menghancurkan atau melaknat orang lain, maka lebih mulia mana antara agama dan budaya? Artinya tidak ada permintaan kepada budaya untuk melakukan hal tersebut (note: budaya berlaku sesuai dengan kondisi tempat budaya itu lahir dan satu budaya belum tentu tepat bila diterapkan di posisi demografis yang berbeda). Lalu ada yang mengatakan bahwa bukan agamanya yang menganjurkan untuk melakukan tindakan tersebut, melainkan diri orang itu sendiri. Ya, namun kita juga tidak lupa bahwa ia menggunakan dasar-dasar perintah dari apa yang dinamakan kitab suci dari agamanya.

Dengan demikian, maka agama tidak dapat secara langsung dikatakan sebagai perintah Tuhan, karena tidak mutlak. Artinya, kalau hal tersebut perintah Tuhan maka ia mutlak, bahasanya tidak ambigu, jelas dan menghasilkan persepsi yang sama. Apabila sebuah kalimat masih harus diinterpretasikan karena belum jelasnya maksud yang dikandung, maka proses berpikir (budi-daya) menjadi sebuah tolok ukur dari tindakan yang dihasilkan.

Jangan-jangan apa yang dinamakan perintah Tuhan itu tidak ada. Ia hanya sebuah ‘rekayasa otoritas’ agar hasil dari sebuah budaya dapat dituruti dan di-imani secara tunduk tanpa penolakan? Sebelumnya mari kita lihat apa itu Budaya? Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. Budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosial-budaya ini tersebar, dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia. (definisi budaya saya ambil dari Wikipedia).

Di dalam budaya ada kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak yaitu tidak dapat diraba atau disentuh. Dengan demikian untuk membentuk komunitas yang solid yang dapat mengikuti ide, gagasan, nilai, norma dan peraturan, maka ia perlu ‘sosok otoritas’ yang tidak dapat dibantah.

Artinya, keberingasan, kemarahan, ancam-mengancam, perang, bisa jadi hal tersebut merupakan sebuah budaya yang biasa di tempatnya dan tidak biasa di tempat lain. Atau cocok pada waktu dan masa tertentu di sebuah tempat dan tidak cocok pada waktu dan masa yang lain di tempat lain. Kita sering lupa menempatkan sebuah budaya yang berbeda di tempat dan waktu yang berbeda. Kemudian untuk membenarkan tindakan sebuah budaya yang berbeda tersebut, sebagian menggunakan alasan bahwa hal tersebut sebagai perintah Tuhan.

Dari cermin-cermin yang terlihat atas kekerasan yang menggunakan alasan agama apapun, maka bagi saya, perintah Tuhan tidak turun di dalam agama atau budaya. Tuhan sebagai simbol dari sumber cinta kasih turun di setiap hati manusia. Kemudian cinta kasih yang akan di-implementasikan oleh hati manusia dalam kehidupannya, berasimilasi dengan budaya tempat ia tumbuh. Apabila ego menguasainya maka ia akan melembagakan budaya di tempatnya. Budaya yang dilembagakan akan mempunyai bentuk kongkrit atas kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, yang tadinya bersifat abstrak. Dengan demikian maka agama merupakan budaya yang dilembagakan. Karena bagaimana pun juga, sampai saat ini, setiap agama di dalamnya ada budaya. Dan setiap budaya di dalamnya lahir agama.

Bila kita dapat menjernihkan agama dan budaya, maka yang ada adalah spiritualitas atau nilai-nilai mulia universal yang tidak tersekat-sekat.

Love & Blessing

Agung webe

Leave a response